Category: Kriminal


KABANJAHE (adhifPRESS)

Empat orang kawanan pencuri antar provinsi diringkus Tim Polres Karo setelah beraksi di Toko sembako UD. Depari Jalan Padang Mas II Kabanjahe. Salah seorang diantaranya, SA (37), harus dilumpuhkan dengan timah panas setelah mencoba melarikan diri dengan mobil Suzuki jenis Carry BK 1087 GI. Hingga saat ini, SA masih mendapat perawatan intensif di RSU Kabanjahe.

Ironisnya, nomor polisi BK 1087 yang digunakan tersangka ternyata palsu. Nomor Polisi sebenarnya B 1984 HY atas nama Partinah yang beralamat KP dua No.30 RT 01/03 Jaka Sampurna Bekasi Barat.

Keempat pelaku, masing-masing BU (36) warga Kebon Kopi Kelurahan Pondok Betung Kecamatan Pondok Aren Kabupaten Tanggerang, PA (39) warga Kampung Jurang Mangu Kelurahan JR. Mangu Aren Kecamatan Pondok Aren Kota Bekasi, KA (41) warga Sendang Mulyo Kecamatan Seluke Kabupaten Rembang Propinsi Jawa Tengah dan SA (37) warga Jaka Sampurna, Kelurahan Bekasi Barat Kecamatan Bekasi Barat Kota Bekasi.

Sementara itu, korban Sakeus Ginting (40), JUm’at (19/6/2009), mengatakan saat tersangka beraksi, ia mendengar suara berisik dari lantai dasar rumahnya. “Dari CCTV yang telah dipasang, saya melihat bahwa sekawanan maling tengah beraksi,” ungkapnya.

Selanjutnya, ia langsung menghubungi Mapolres Karo dan menerangkan rumah yang sekaligus grosir miliknya tengah dijarah pelaku. Berselang 10 menit kemudian, tim dari kepolisian langsung menggerebek pelaku dan menggelandangnya ke Mapolres Karo.

Pengakuan tersangka, mereka telah tiga kali beraksi di Karo. Namun, mereka tidak tahu dimana saja aksi mereka dilancarkan. “Otak dari semua ini adalah SA, karena dia yang tahu dimana lokasi sasaran. Kami melakukan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi,” ucap PA.

Tersangka SA yang ditembak aparat kepolisian dan ditengah dirawat RSU Kabanjahe mengatakan mereka telah sering beraksi di Karo dan umumnya target mereka adalah grosir yang mempunyai banyak persediaan rokok. “Hasilnya kami jual di Aceh.,” katanya.

Iklan

KABANJAHE (adhifPRESS)

Kasus pembunuhan kembali terjadi di Karo. Kali ini, dua bocah kakak beradik, Maysarah (7) dan Adelina Syafira (5) ditemukan tewas mengenaskan di perladangan Juma Pasar Desa Kubucolia Kecamatan Dolat Rayat Kabupaten Karo. Ironisnya, kedua korban diduga diperkosa oleh pelaku sebelum dibunuh.

“Kondisi kedua kepala korban memar. Dari hasil otopsi, vagina kedua korban robek. Sehingga diduga kuat kedua korban diperkosa terlebih dahulu baru dibunuh,” ungkap Kapolres Karo melalui Kasat Reskim AKP Lukmin Siregar, Selasa (9/6), di Kabanjahe.

Lukmin mengatakan pihaknya menemukan sepasang celana dalam berwarna biru dan putih masing-masing milik kedua korban dari hasil olah TKP. “Pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan pelaku  tergolong sadis dan tidak manusiawi. Kami akan ekstra keras mengungkap kasus itu,” katanya.

Ditemui di RSU Kabanjahe, orang tua korban, Agus (33) mengatakan kedua anaknya yang belum bersekolah itu sudah tidak terlihat sejak, Sabtu (6/7).. “Saya menyisir perladangan untuk mencari mereka. Namun, hingga Minggu siang belum juga berhasil,” ujar Agus yang mengaku sudah 9 bulan bekerja di perladangan tersebut.
 
Agus melanjutkan, sekitar pukul 16.00 Wib, Kasbi, salah seorang warga menemui ia dan istrinya Susiana yang memberitahukan kalau kedua anak mereka berada di bawah pohon kopi milik Bahagia Sembiring.
     
“Kemudian saya dan istri saya kesana. Disitulah, saya menemukan kedua anak saya sudah tak bernyawa dan didekatnya ditemukan botol cairan pestisida,” ungkap Agus dengan mata berlinang.

Baca lebih lanjut

KABANJAHE (adhifPRESS)

Penahanan Kepala Desa (Kepdes) Gurusinga Kecamatan Berastagi MG terkait penyelewengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) terhadap 93 Kepala Keluarga (KK) ternyata berbuntut panjang.

Ratusan warga Desa Gurusinga yang didominasi kaum ibu mendatangi Mapolres Karo meminta penangguhan penahanan Kepdesnya, Senin (08/6). Menurut mereka, data yang digunakan untuk pencairan BLT 2008 merupakan data tahun 2005 yang juga merupakan tanggung jawab Kepdes sebelumnya.

“Selain itu, kalau dia (Kepdes) masih ditahan, tentunya pengurusan surat-surat untuk kepentingan anak sekolah, yang mau bekerja ke Malaysia, dan urusan administrasi lain menjadi terkendela,” ujar salah seorang warga kepada adhifPRESS di Mapolres Karo.

Menanggapi hal ini, Kasat Reskrim AKP Lukmin Siregar mengatakan permintaan warga tersebut tidak mungkin dikabulkan, karena pihak pengadu meminta agar penahanan MG untuk tidak ditangguhkan. “Tersangka tidak mungkin dibebaskan. Karena warga yang merasa dirugikan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) telah melayangkan surat agar penahanan Modesty Gurusinga tidak ditangguhkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kanit Idik 2 Tipiter Polres Karo Aiptu P Sitorus mengatakan dari hasil audit BPKP ditemukan penyelewengan dana tersebut sebesar Rp 26.600.000. “Tersangka dikenakan pasal 3 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor, yunto pasal 8 UU RI nomor 20 tahun 2001  tentang perubahan UU RI nomor 31 tahun 1999, ancaman hukuman maksimal seumur hidup, denda 1 (satu) Miliar rupiah,” katanya.

Berdasarkan penyelidikan Polres Karo, Kepdes Gurusinga MG tidak menyampaikan dana BLT kepada 93 Kepala Keluarga (KK) yang berhak menerima. Seharusnya, masing-masing penerima berhak mendapatkan Rp100 ribu per bulan selama tujuh bulan. Selain itu, untuk pengajuan penerima BLT 2008, MG tidak terlebih dahulu melakukan musyawarah desa. Akibatnya, penyaluran BLT menjadi tidak tepat sasaran.

KABANJAHE (adhifPRESS)

MG (37), Kepala Desa (Kepdes) Gurusinga ditetapkan Polres Karo sebagai tersangka terkait penyelewengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Desa Gurusinga Kecamatan Berastagi, tahun 2008 lalu.

Pantauan adhifPRESS di Mapolres Karo, oknum Kades Gurusinga tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan selama 6 jam sejak pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Kapolres Karo melalui Kasat Reskrim AKP Lukmin Siregar, tadi sore, mengakui pihaknya telah menetapkan oknum Kepala Desa Guru Singa sebagai tersangka terkait dugaan penyelewengan penyaluran BLT. “Hingga pada pukul 18.00 WIB, oknum Kepala Desa tersebut masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Karo,” ujarnya.

MG diadukan melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Gurusinga setelah menggelapkan dana BLT untuk puluhan dari 356 warganya, senilai Rp 700 ribu per orang. Sementara, sebagian warga yang masih terdaftar sebagai penerima, tidak menerima kartu untuk pencairan dana tersebut.

Selain itu, MG juga tidak menyalurkan BLT kepada ahli waris warga yang telah meninggal dunia. Padahal sistem penyaluran BLT, jika orang yang terdaftar telah meninggal dunia, maka yang berhak menerima dana tersebut adalah ahli waris yang bersangkutan, istri atau anaknya yang belum berumah tangga.

%d blogger menyukai ini: