©shutterstock/photowings.com

©shutterstock/photowings.com

ADA sedikit pertanyaan yang mengganjal dalam benak saya terhadap euforia yang terjadi di setiap memasuki tahun yang baru. Pertanyaan ini baru saja muncul walau saya sudah melewatinya sudah 28 kali sepanjang hidup saya.

Pertanyaan itu adalah kenapa yang mesti dirayakan itu adalah tahun baru? Kenapa windu baru,  bulan baru, hari baru, jam baru atau menit baru dilewatkan begitu saja? Toh tahun, bulan, hari, jam, dst itu adalah sama-sama masa atau waktu yang saling berkaitan.

Alangkah tak adilnya kita jika hanya heboh di tahun baru. Padahal tahun itu takkan ada jika tidak ada bulan, demikian juga bulan yang tiada tanpa adanya hari.

Kenapa kata ‘resolusi’ baru riuh terdengar dan marak terbaca saat era pergantian tahun tiba. Kenapa kata ‘instropeksi’ ramai bermunculan kala akhir tahun menjelang.

Kenapa tidak setiap menit, jam, hari, atau bulan? Kenapa libur hanya ditetapkan hanya kala tahun baru tiba? Kenapa tidak ditetapkan libur setiap memasuki bulan baru atau hari baru? Kenapa?
Oh. Mungkin ada yang menjawab karena tahun itu adalah rentang waktu yang lama. Coba tanya kepada seseorang yang sudah divonis dokter hidupnya hanya berlangsung beberapa tahun lagi. Dia akan merasa bahwa pergantian tahun terasa begitu cepat. Atau coba hitung berapa umur kita sekarang? 20 tahun, 30 atau 40 tahun? Apa cukup lama untuk melewati itu? Sangkin cepatnya kita bahkan tidak bisa menceritakan secara rinci apa saja yang kita lakukan sepanjang hidup kita.

Waktu yang bernama detik juga bisa menjadi lama kala kita menunggu seseorang yang dinanti. Atau bagaimana detik akan terasa sangat lambat saat menanti orang yang disayangi berada di ruangan operasi. Kebanyakan pelajar akan merasa lama saat memasuki pelajaran fisika, kimia, dan sejenisnya dan sebagian lainnya waktu terasa berputar cepat kala pelajaran olahraga. Padahal rentang waktu yang diberikan sama.

Atau mungkin saja ada yang menjawab, karena setiap tahun baru kalender berganti. Ah.. itukan hanya pintarnya pihak percetakan saja. Bisa saja satu halaman dibuat 12 bulan dengan menghapus gambar yang sama sekali tak nyambung itu. Lantas tiap kalender dijadikan 8 halaman, maka jadilah sewindu.

Kembali ke persoalan pokok, mengapa kita tidak mencoba berlaku adil terhadap waktu. Apa tidak terpikir untuk mulai sama-sama menghargai tingkatan waktu. Misalnya, membuat acara meriah yang berisikan resolusi atau instropeksi setiap memasuki bulan baru, minggu baru atau hari baru.

Atau minimal berlaku adil terhadap waktu dengan tidak hanya membuat Peringatan Tahun Baru di kalender. Tapi buatkan juga Peringatan Windu Baru, Bulan Baru, Minggu Baru dan Hari Baru yang tentu saja ditandai dengan warna merah.

Abdullah Lathif Manjorang

Follow me on Twitter : @pippoadhif

Me on GooglePlus : gplus.to/adhif

Iklan