Swat Valley (aPress)

Sambil membetulkan jilbabnya, Hajira Kardim, 13, berasal dari Duppat, sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian akhirnya di Sekolah Syara di Mongora, ibukota Swat Valley. “Saya gembira bisa melanjutkan sekolah saya,” ujar Hajira, setelah menyelesaikan ujiannya.

Sekolah-sekolah di Swat Valley memang telah dibuka kembali sehari setelah penerapan Syariah Islam di Swat Valley dan beberapa derah pedalaman di Pakistan.

Sebelumnya ratusan sekolah untuk anak-anak perempuan ditutup begitu saja oleh pemerintah Pakistan ketika Taliban mulai diterima di area mereka. Termasuk sekolah dimana Hajira belajar. Penutupan itu berlangsung selama kurang lebih dua bulan. “Dua bulan rasanya seperti berabad-abad lamanya untuk saya,” kenang Hajira, “ketika saya mengetahui bahwa sekolah dibuka kembali, saya menangis haru dan bahagia.”

Adalah Sufi Mohammad, salah satu anggota TNSM (Tehrik Nifaz-e-Syariah Mohammadi) yang menyatakan bahwa sekolah kembali dibuka. Pembukaan kembali sekolah ini menandakan bahwa penerapan Syariah di wilayah ini tidak bisa dihindarkan. Saat ini, di Swat Valley terdapat sekitar 2000 sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama. Dari jumlah itu, lebih dari 200 sekolah dihancurkan oleh pemerintah dan militer Pakistan sebagai ancaman untuk Taliban agar menghentikan penerapan Syariah.

Swat Valley, dikenal sebagai Swiss-nya Pakistan karena keindahan alamnya yang hampir menyerupai Swiss, dalam dua bulan ini memang di-kota-mati-kan oleh pemerintah Pakistan. Hajira mengaku sangat bergembira bisa kembali belajar dan bermain bersama teman-temannya. “Ibu saya tak pernah sekolah sebelumnya, jadi ia sangat senang ketika saya bisa kembali melanjutkan sekolah saya.” tambah Hajira.

Menurut Hazrat Hussein, kepala Sekolah Syara, selama ini pendidikan di Swat Valley benar-benar tidak terperhatikan, jika tidak mau dikatakan ditinggalkan. Lebih parah sekolah untuk anak-anak perempuan, tidak mendapatkan prioritas. Kedatangan Taliban ke tempat itu dan membuka kembali sekolah untuk anak perempuan membuat semua orang menjadi terkejut karena selama ini yang mereka dengar, Taliban diisyukan begitu keras terhadap perempuan. “Sekarang, di antara 360 murid sekolah, 180 di antaranya adalah anak-anakperempuan.” papar Hazrat. Demikian aPress kutip dari  eramuslim.

Iklan