prita-mulyasari-03Jakarta (aPRESS)

Prita Mulyasari kembali dihadapkan pada dakwaan jaksa atas kasus pencemaran nama baik terhadap Rumah Sakit Omni Internasional. Ia kembali terancam hukuman enam tahun penjara.

Ia akan kembali menjadi terdakwa setelah Pengadilan Tinggi Banteng mengabulkan gugatan banding jaksa penuntut umum untuk membatalkan penghentian kasus Prita.

Prita merasa dua jaksa yang menangani kasusnya, Riyadi dan Rahmawati Utama terobsesi mengirimnya ke penjara. “Aku tidak tahu statusku karena dakwaan dibuat oleh jaksa yang tidak profesional. Aku tidak tahu mengapa jaksa terlalu bernafsu menahanku,” kata Prita.

Kalimat itu merupakan petikan puisinya ‘Galau’ yang merupakan jawaban dakwaan jaksa yang dibaca Prita pada persidangan 11 Juni lalu. “Kita pertanyakan hati nuraninya saja lah, dia (jaksa) kan juga punya anak kecil,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Jumat (31/7/2009).

Prita syok saat mendengar kabar tersebut dari wartawan, kemarin, Kamis 30 Juli. Kala itu ia masih di kantor. Prita pun menangis setibanya di rumah. Apalagi, ia masih dalam penyembuhan dari trauma yang menderanya selama terbelit kasus itu.

Para jaksa mendakwanya dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman 1,4 tahun penjara, Pasal 311 KUHP tentang pencemaran nama baik secara tertulis dengan ancaman 4 tahun penjara, serta Pasal 27 Ayat 3 UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Prita yang terancam enam tahun penjara ditahan pada 13 Mei 2009. Namun tiga minggu kemudian hakim mengabulkan penangguhan penahanan Prita setelah muncul berbagai dukungan dari publik dan pejabat pemerintah. Hakim Pengadilan Negeri Tangerang juga menghentikan kasus Prita melalui putusan sela pada 25 Juni lalu. Namun, jaksa mengajukan banding atas keputusan tersebut. (vivanews)

Iklan